Ernawati_Journal

Sri Mulyani

25/05/2010 14:35

Jak

foto

Sri Mulyani: Sumbangan Saya Sebagai Pejabat Publik Tak Lagi Dikehendaki

Hampir sekitar setengah bulan setelah memutuskan mundur dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani membisu. Ia sama sekali tak pernah berterus terang mengungkapkan alasannya mundur dan lebih menerima tawaran sebagai Managing Director World Bank. 

Namun, pada Selasa (18/5) malam lalu, dalam sebuah acara Kuliah Umum bertajuk "Kebijakan Publik dan Etika Publik" yang digelar di hotel Ritz Carlton, Sri blak-blakan mengungkapkan kegelisahannya selama menduduki jabatan Menteri Keuangan.

Dalam acara yang dihadiri kerabat dan kolega itu, Sri mengungkapkan bahwa dirinya saat ini menang. Sebab, "Kemenangan dan keberhasilan itu menurut saya, karena saya tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak di sini."

Berikut transkip kuliah umum lengkap Sri Mulyani di acara kuliah umum itu.


Saya rasanya lebih berat berdiri di sini daripada waktu dipanggil Pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Itu yang membuat saya yang biasanya jarang sekali grogi sekarang menjadi grogi.

Saya diajari Pak Marsillam Simanjuntak (mantan Ketua UKP3R) untuk memanggil orang tanpa menyebut mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 'pak', dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk tangan).

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahman Toleng dengan Rahman Toleng.

Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama, karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah, saya harus paling tidak saya harus membaca buku dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus itu biasanya untuk kuliah kelas internasional atau spesial. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP-nya mahal. Dan itu pasti neolib itu (disambut tertawa). Karena itu saya revisi mungkin namanya kepada adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini, saya sekaligus akan menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih menjadi pembantu (presiden), secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang ada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semua dimensinya untuk kepentingan publik.

Di situ letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya. Sebab, saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di Filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun di bawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik. Dimana setiap hari saya harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat. Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat Anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan 'kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?'

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama Anda masuk kantor, Anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal Anda dan staf Anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari Rp 400 triliun sampai sekarang di atas Rp 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati Rp 3000 triliun lebih. Saya lihat banyak sekali, kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).

Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seolah-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan di situlah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya tidak seperti itu. Apalagi tingkahnya. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product-nya, dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya mereka bingung dan berkata, "Tidak pernah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu."

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan.

Saya bisa cerita berhari-hari kepada Anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang mengkhianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik. Pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura atau sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan, "Ini adalah panggung politik bu."

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability, saya tidak tahu kepada anggota dewan mereka sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras.

Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu. Katanya, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati. Hal seperti itu hanya satu episode drama saja."

Itu kemudian menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? Siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat.

Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di Dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.

Nah, oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat. Namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don't.

Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya.

Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.

Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai Anda tergelincir ya kebangetan aja Anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah backgroundnya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya... kalau dalam bahasa Inggris apa disebutnya? I drop my job atau apa..bingung itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang mengimport adalah perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di Zaman Orde Baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.

Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.
Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silakan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementerian keuangan. Kebetulan mereka adalah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, "Mba Ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu."

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada Anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti. 'Lihat saja Sri Mulyani, neolib.'

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, provinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan, saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana Anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.

Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. Politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (menyesal), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama (ketawa dan tepuk tangan).

Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangung jawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali.

Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, Anda mampu, Anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan Anda tidak mau (tepuk tangan). Namun pada saat yang sama Ada tidak selalu diapresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya di atas jam 21.00 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic.

Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat zaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau Anda out dan Anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan kita juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga Anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti Anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, Anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti Anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan.

Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti Anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena Anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan. "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman di sini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti Anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh Anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh.

Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementerian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian Anda di sini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau Sri Mulyani tetap menjadi menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, Sri Mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain.

Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti Pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin Pak Marsilam? Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani.

Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan Sri Mulyani identik dengan Century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari Anda mengatakan apakah Sri Mulyani kalah, apakah Sri Mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara Anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil.

Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini (applause).
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang.

Terimakasih. (standing applause)

RIEKA RAHADIANAA

 

Sri Mulyani: Pegawai Kementerian Pahlawan Bangsa


- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan para pegawai di Kementerian Keuangan adalah pahlawan bangsa karena telah berdedikasi menjaga amanah yang diberikan rakyat Indonesia.

"Karena ini kesempatan terakhir, maka saya ucapkan terima kasih. Dan sebagai manusia biasa, saya juga mohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan," ujar Sri Mulyani, seperti yang dikutp dari laman resmi Kemnterian Keuangan.

Hal tersebut ia kemukakan saat memimpin upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-102, Kamis (20/5), di Lapangan Kementerian Keuangan di Jalan Lapangan Banteng, Jakarta.

Sri Mulyani juga berpesan agar Kementerian dapat tetap membanggakan bagi Indonesia dan dihargai dunia. "Bangun Kemenkeu hingga bisa dibanggakan oleh rakyat Indonesia dan dunia," tuturnya.

Upacara yang diikuti oleh jajaran Pejabat Eselon I dan perwakilan pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan itu berjalan dengan khidmat. "Sangat terharu dan bangga anak-anak di Kemenkeu semangatnya luar biasa dan akan terus menjaga prestasi," kata Sri Mulyani.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima pengunduran diri Sri Mulyani dari kursi Menteri Keuangan beberapa waktu lalu. Seterusnya, Sri Mulyani akan menduduki jabatan baru sebagai salah satu Direktur Pelaksana di Bank Dunia per 1 Juni mendatang.

Kemarin, Presiden menunjuk Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo sebagai Menteri Keuangan. Sementara Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Anny Ratnawati didapuk sebagai wakilnya. Agus dan Anny akan dilantik hari ini. Pengangkatan itu sekaligus menepis isu yang beredar tentang siapa sosok pengganti Sri Mulyani pada jabatan prestisius itu.

BOBBY CHANDRA

sumber http://tempointeraktif.com

 

Sri Mulyani Indrawati: IQ Saya 157  


Mundur dari jabatan Menteri Keuangan bukan berarti tanpa aktivitas. Sambil menunggu menduduki jabatan barunya sebagai Managing Director World Bank ia memiliki kesibukan baru yakni menghadiri puluhan acara perpisahan yang digelar para koleganya.

Ada yang sedikit berbeda dengan Sri Mulyani saat menjabat sebagai Menteri Keuangan dan setelah lepas dari jabatan itu. Meski agendanya padat, namun wanita kelahiran Tanjung Karang, 26 Agustus 1962, terlihat lepas. Saat serahterima jabatan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Agus Martowardoyo pada Sri beberapa kali mengucurkan air mata. "Karena bukan menteri keuangan saya sekarang boleh menangis. Kepada Pak Agus jangan menangis nanti rupiah terguncang," katanya.

Sebelum berangkat ke Washington pada Rabu (26/5) nanti, Senin (24/5), Sri sempat bertandang ke kantor Majalah Tempo di Jalan Proklamasi. Dalam kesempatan itu Tempointeraktif bekerjasama dengan Yahoo! Indonesia mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Sri. Beberapa pertanyaan diambil dari Yahoo! Answers.


Anda bilang bisa tertawa lepas setelah 6 tahun berada di Kementerian Keuangan dan sangat cerah ketika menyanyikan lagu Send Me The Pillow. Apakah tawaran Bank Dunia itu merupkan The Pillow yang diimpi-impikan selama ini?

(Tertawa). Saya rasa lagu Send Me The Pillow itu lagu yang merupakan lagu yang disampaikan Mas Franky Sahilatua dan menggambarkan tentang simbol bahwa seseorang, termasuk saya, manusia biasa di dalam ranah publik mungkin kita harus memerankan suatu tanggungjawab yang tegar dan kuat. Kita sebagai manusia biasa membutuhkan suatu tempat untuk bisa melepaskan emosi maupun beban itu tanpa merasa bahwa ini merupakan suatu kecengengan atau suatu kelemahan.

Jadi sebenarnya tidak ada hubungannya juga (lagu) karena di Bank Dunia bukan Pillow karena dia merupakan suatu ranah publik lain yang sifatnya internasional yang bahkan tidak akan membiarkan dan membolehkan saya untuk menjadi orang yang cengeng.

Jadi saya rasa ini adalah tantangan dan tanggungjawab baru yang harus saya laksanakan sebaik-baiknya.

Waktu membawakan lagu itu suara Anda merdu sekali. Cengkoknya bagus. Sering latihan menyanyi?

(Tertawa). Dari kecil kami dulu biasa nyanyi. Keluarga kami ini memang keluarga yang suka seni. Ada yang suka nyanyi, ada yang suka menari, melukis.

Melihat perjalanan karir Anda, sepertinya Anda ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Berapa sih IQ Anda?
Begini. Kebetulan waktu pindahan (dari rumah dinas) saya buka-buka file lama. Saat ini saya menemukan dokumen tes IQ saya waktu SMA. Biasanya setelah lulus SMA mau masuk universitas kan kita ikut tes IQ untuk melihat bakat dan kecerdasan. Saya lihat skor IQ saya waktu itu 157. (Ini tergolong tinggi. Pelukis Rembrandt van Rijn dari Belanda IQ-nya 155, pendiri Microsoft Bill Gates 160, fisikawan Albert Einstein 160).

Tahun berapa itu?
Itu dokumen tahun 1981, waktu saya mau masuk universitas. Ya itu, saya enggak merasa pinter tuh, biasa aja rasanya. Bahkan rapor saya rasanya angkanya tidak terlalu hebat-hebat amat. Jadi mungkin kebetulan saja.

Sudah hampir enam tahun memimpin reformasi birokrasi Kementerian Keuangan. Bagaimana kondisinya sekarang?

Lima tahun ini tiga undang-undang perpajakan semua diubah, mulai dari Ketentuan Umum Perpajakan, PPh, PPN, bahkan sekarang ada Pajak dan Retribusi Daerah. Jadi semuanya ini rezim baru. Nanti menteri keuangan yang baru yang harus menjalankan secara konsisten.

Mereka akan kehilangan itu dengan kepergian Anda. Kok Anda tinggal begitu saja? Apa Reformasi di Kantor Pajak masih bisa berjalan?

Karena sudah menjadi inheren dalam institusinya.

Kan jarang ada menteri yang mau ikut sampai detail, menyemangati anak-anaknya?

Kan tadi kita tidak bicara tentang itu.

Kan ini menyemangati saja…
Lha kok saya malah dimarahi? (ruangan pun penuh tawa)

Dalam wawancara dengan Tempo sebelumnya, Sri Mulyani menjawab pertanyaan seputar apakah dia didesak oleh kelompok tertentu. Berikut petikannya:

Kapan persisnya Anda diminta Bank Dunia untuk bergabung?
Ya seperti yang sudah disampaikan Bapak Presiden saja.

Apa betul sejak tahun lalu?
Itu cerita versi siapa? Ya, cerita sendiri saja, tapi bukan dari saya (tertawa).

Beberapa bulan lalu, Presiden Bank Dunia berbicara kepada pengusaha Jusuf Wanandi. Katanya, Indonesia telah memperlakukan menteri keuangannya dengan sangat buruk dan, karena itu, Bank Dunia akan merekrutnya?

Kalau begitu, kutip saja dari Pak Jusuf Wanandi, he-he-he.... Saya malah enggak tahu.
Anda merasa ada kelompok yang mendorong Anda mundur sebagai Menteri Keuangan?

Saya fokuskan kerja di sini saja. Soal analisis pernyataan tokoh-tokoh itu, biar Tempo saja yang mengerjakan.

Jika Presiden tak mengizinkan Anda pergi, Anda akan tetap memaksa?
Kita ngurus negara kan enggak seperti anak kecil yang mudah ngambek. Ketika saya menjadi menteri, saya membantu Presiden. Saya hormat kepada beliau.

Anda bahagia dengan pilihan Anda meninggalkan kabinet?
Ya, happy, ha-ha-ha....

Lama dong nanti meninggalkan Indonesia?
Kayak ke mana saja. Saya pasti kembalilah. I'll be back.

FAJAR WH | DARU PRIYAMBODO
 
sumber http://tempointeraktif.com
 

 

Contact

Ernawati

rna_theana@yahoo.co.id

Parungpanjang_Bogor

Search site

 

TENTANG PEREMPUAN

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua
orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan saling melengkapi. Dialah
penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan. Ketika
pertandingan dimulai, dia tidak akan berhadapan denganmu untuk melawan
tetapi dia akan ada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat
engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu
terlewat olehmu; dialah yang akan melengkapi kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tidak ada dalam laki-laki: perasaan,
emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk
melahirkan, mengurusi hal-hal sepele; hingga ketika laki-laki tidak
mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya sehingga
tanpa kau sadari, ketika kau menjalankan sisa hidupmu, kau akan menjadi
lebih kuat karena hadirnya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan
lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan
hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan. Ia tidak butuh
argumentasi hebat dari seorang laki-laki tetapi ia butuh jaminan rasa
aman darinya, karena ia ada untuk dilindungi. Tidak hanya secara fisik,
namun juga emosi.

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti
dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki,
tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-kata yang lembut,
ungkapan-ungkapan sayang yang sepele namun sangat berarti baginya;
membuatnya aman di dekatmu.

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat
laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput
yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon
besar dan rindang, seperti juga di dalam kelembutannya, di situlah
terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam
situasi apapun. Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan
dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.

Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu akan menyita
sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir tentang
perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.

Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena
perempuan adalah bagian dari laki-laki.. apa yang menjadi bagian
hidupnya, akan menjadi bagian bagi hidupmu. Karena kau dan dia adalah
satu. Dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan
dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.

sumber:http://unforgetable-days.blog.friendster.com/2006/

News

15/11/2011 22:20

Foto-foto bayi tidur

  klik disini: beritaterkini.us/international/wah-foto-foto-lucu-bayi-tidur.html
12/11/2011 06:28

MASKER BUAH UNTUK KULIT CANTIK

Masker wajah merupakan perawatan kulit tertua pada perawatan kecantikan. Selain melembutkan kulit, fungsi masker adalah membuka pori-pori yang tersumbat serta mengenyahkan kotoran pada kulit wajah, baik sisa kosmetik maupun debu akibat polusi. Masker juga dapat mengembalikan kelembaban dan...
20/04/2011 10:10

Hati Perempuan

1.Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya. 2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebihbaik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamumenegur dengan ucapan...
15/04/2011 11:35

Jabatan Baru Sri Mulyani

Warta Jabatan baru Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ditunjuk menjadi Managing Director Bank Dunia merupakan satu berkah bagi bangsa Indonesia yang menjadikan citra bangsa Indonesia semakin lebih baik di mata dunia. Analis ekonomi dari Universitas Jambi, Emilia Hamzah mengatakan ke...
15/04/2011 10:58

Apa Kabar Sri Mulyani

Sri Mulyani Bertemu Presiden SBY Jumat, 8 April 2011 09:52 WIB | 1626 Views Mantan Menteri Keuangan yang kini menjabat Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani (kanan) berbincang dengan Sekretaris Jendral ASEAN, Surin Pitsuwan (kiri) dalam pembukaan Pertemuan Ke-15 Menteri Keuangan...
14/04/2011 12:21

Interaksi Seorang Muslim Terhadap Allah

"Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdo'a kepada Ku,  Hendaklah mereka-mereka itu memenuhi perintah Ku, dan beriman kepada Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" (QS:2:186)
16/03/2011 13:35

Kehamilan

  Kehamilan   Pengetahuan tentang reproduksi sangat penting, terlebih bagi pengantin baru. Begitu pula dengan pasangan yang sudah lama belum dikaruniai anak walau Pahami Siklus haid Normalnya, siklus haid terjadi tiap 28-30 hari. Tubuh wanita melepaskan hormon yang memancing telur...
16/03/2011 12:09

CARA ANEH U/ MEMPERCEPAT KEHAMILAN

Compiled by Theeas Di Barat, sejak berabad-abad lalu hingga kini bulan dipercaya mempengaruhi kehidupan dan emosi manusia. Pengaruh gravitasi, ionisasi, dan pasang surut elektromagnetik bulan senantiasa berdampak pada emosi manusia. Pada abad-16, orang Eropa percaya bahwa bulan purnama bisa membuat...
16/03/2011 11:54

Enam makanan Untuk mempercepat kehamilan

  Enam makanan Untuk mempercepat kehamilan oleh: Donnyachmad     Pengarang : Samudra var lblVisits='Kunjungan' + ' :'; $(document).ready(function() { MakeSticyTower(); }); ...
16/03/2011 11:49

Fakta Dari Segelas Susu

Fakta Dari Segelas Susu   (c) blogspot Susu penting untuk tulang, bahan detoks tapi juga bikin gemuk dan memicu penyakit jantung. Jadi..? KapanLagi.com - Oleh: EW Andayani Beberapa waktu lalu, kita dibuat bingung dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa susu itu tidak berguna untuk...

News

15/11/2011 22:20

Foto-foto bayi tidur

  klik disini: beritaterkini.us/international/wah-foto-foto-lucu-bayi-tidur.html
12/11/2011 06:28

MASKER BUAH UNTUK KULIT CANTIK

Masker wajah merupakan perawatan kulit tertua pada perawatan kecantikan. Selain melembutkan kulit, fungsi masker adalah membuka pori-pori yang tersumbat serta mengenyahkan kotoran pada kulit wajah, baik sisa kosmetik maupun debu akibat polusi. Masker juga dapat mengembalikan kelembaban dan...
20/04/2011 10:10

Hati Perempuan

1.Bila seorang wanita mengatakan dia sedang bersedih,tetapi dia tidak meneteskan airmata,itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya. 2. Bila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya,lebihbaik kamu beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamumenegur dengan ucapan...
15/04/2011 11:35

Jabatan Baru Sri Mulyani

Warta Jabatan baru Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ditunjuk menjadi Managing Director Bank Dunia merupakan satu berkah bagi bangsa Indonesia yang menjadikan citra bangsa Indonesia semakin lebih baik di mata dunia. Analis ekonomi dari Universitas Jambi, Emilia Hamzah mengatakan ke...
15/04/2011 10:58

Apa Kabar Sri Mulyani

Sri Mulyani Bertemu Presiden SBY Jumat, 8 April 2011 09:52 WIB | 1626 Views Mantan Menteri Keuangan yang kini menjabat Managing Director Bank Dunia, Sri Mulyani (kanan) berbincang dengan Sekretaris Jendral ASEAN, Surin Pitsuwan (kiri) dalam pembukaan Pertemuan Ke-15 Menteri Keuangan...
14/04/2011 12:21

Interaksi Seorang Muslim Terhadap Allah

"Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdo'a kepada Ku,  Hendaklah mereka-mereka itu memenuhi perintah Ku, dan beriman kepada Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" (QS:2:186)
16/03/2011 13:35

Kehamilan

  Kehamilan   Pengetahuan tentang reproduksi sangat penting, terlebih bagi pengantin baru. Begitu pula dengan pasangan yang sudah lama belum dikaruniai anak walau Pahami Siklus haid Normalnya, siklus haid terjadi tiap 28-30 hari. Tubuh wanita melepaskan hormon yang memancing telur...
16/03/2011 12:09

CARA ANEH U/ MEMPERCEPAT KEHAMILAN

Compiled by Theeas Di Barat, sejak berabad-abad lalu hingga kini bulan dipercaya mempengaruhi kehidupan dan emosi manusia. Pengaruh gravitasi, ionisasi, dan pasang surut elektromagnetik bulan senantiasa berdampak pada emosi manusia. Pada abad-16, orang Eropa percaya bahwa bulan purnama bisa membuat...
16/03/2011 11:54

Enam makanan Untuk mempercepat kehamilan

  Enam makanan Untuk mempercepat kehamilan oleh: Donnyachmad     Pengarang : Samudra var lblVisits='Kunjungan' + ' :'; $(document).ready(function() { MakeSticyTower(); }); ...
16/03/2011 11:49

Fakta Dari Segelas Susu

Fakta Dari Segelas Susu   (c) blogspot Susu penting untuk tulang, bahan detoks tapi juga bikin gemuk dan memicu penyakit jantung. Jadi..? KapanLagi.com - Oleh: EW Andayani Beberapa waktu lalu, kita dibuat bingung dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa susu itu tidak berguna untuk...

Blog

19/05/2010 08:33

First blog

Our new blog has been launched today. Stay focused on it and we will try to keep you informed. You can read new posts on this blog via the RSS feed.

© 2010 All rights reserved.

Create a free websiteWebnode